JAKARTA HEARING CENTER

Penjelasan Umum Mengenai Pendengaran
A. Gangguan Pendengaran
Dalam bahasa sederhana, gangguan pendengaran adalah berkurangnya intensitas suara yang dapat didengar oleh telinga kita. Penurunan pendengaran bersifat permanen dan progresif, yang artinya akan semakin memburuk seiring dengan waktu apabila tidak tertangani dengan baik. Setiap bagian telinga memiliki peran penting dalam menyediakan informasi bunyi ke otak. Gangguan pendengaran disebabkan oleh rusaknya salah satu atau beberapa bagian dari telinga luar, tengah ataupun dalam.

Seperti penurunan kemampuan melihat pada mata, gangguan pendengaran adalah hal normal untuk dialami setiap orang. Pada umumnya, gangguan pendengaran pada orang dewasa mulai terjadi pada rentang usia 40-50 tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa gangguan pendengaran telah dialami pada bayi yang baru lahir. Di seluruh dunia terdapat 0,1% – 0,13% bayi baru lahir yang mempunyai gangguan pendengaran atau 1 – 3 bayi lahir dengan gangguan pendengaran setiap 1000 bayi baru lahir. Dan pada bayi yang pernah mendapatkan perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau ruang perawatan intensif bayi baru lahir, persentase gangguan pendengaran meningkat menjadi 2 – 4%. Bila di Indonesia angka kelahiran diperkirakan 2,6% maka ada sekitar 5000-10.000 bayi lahir dengan gangguan pendengaran setiap tahunnya.

Sebagai orang tua, waspadalah pada setiap kelainan, baik itu sekecil apapun. Masalah pendengaran bukanlah sebuah hal yang dapat dianggap sepele. Adanya gangguan pendengaran dapat dideteksi sejak bayi, sebab itulah Anda patut curiga apabila bayi Anda bereaksi seperti berikut:

• Tidur bayi Anda sangat nyenyak, tidak terganggu oleh suara-suara gaduh di sekitarnya. Bayi yang terbangung karena suara gaduh menunjukkan bahwa bayi tersebut mempunyai tingkat pendengaran yang normal, sebaliknya apabila ia diam dan tidak bereaksi apa-apa, Anda patut curiga.
• Apabila pada usia yang sudah agak besar, ia bersikap tak acuh ketika mendengar suara mainan, bel pintu, atau musik yang dipasang.
• Belum bisa mengucapkan kata-kata sederhana, seperti “mama”, “papa”, “dada”, dan sebagainya di usianya yang ke 12-18 bulan.
• Baru memberi respon setelah dipanggil secara berulang-ulang.
• Pada waktu bicara, si kecil cenderung melihat gerak bibir Anda untuk menangkap apa yang sedang Anda bicarakan.

Gangguan pendengaran dapat terjadi oleh siapa saja.
30 dari 100 orang > 50 tahun mengalami gangguan pendengaran
50 dari 100 orang > 70 tahun mengalami gangguan pendengaran
8 dari 10 orang yang mengalami gangguan pendengaran tidak menyadari dengan gangguan pendengaran yang dimilikinya.

B. Derajat Gangguan Pendengaran
Seperti penurunan kemampuan melihat pada mata, gangguan pendengaran mempunyai intensitas yang berbeda pada setiap orang. Level pendengaran pada tingkat normal terdapat pada kisaran antara 0 – < 25 desibel (dB).

1. Gangguan pendengaran ringan (antara 26 – 40 dB)

Tidak dapat mendengar suara lembut, kesulitan memahami pembicaraan secara jelas di lingkungan bising.

2. Gangguan pendengaran sedang (antara 41 – 60 dB)

Tidak dapat mendengar suara lembut dan kekerasan sedang, sangat sulit memahami pembicaraan di lingkungan yang bising.

3. Gangguan pendengaran berat (antara 61 – 90 dB)

Masih dapat mendengar suara keras. Komunikasi tanpa Alat Bantu Dengar harus dengan berhadapan langsung dengan suara yang keras.

4. Gangguan pendengaran sangat berat (>90 dB)

Beberapa suara sangat keras masih terdengar tapi komunikasi tanpa Alat Bantu Dengar adalah mustahil.

Gangguan pendengaran yang dialami oleh orang dewasa adalah ringan sampai sedang. Sebagian besar orang yang mengalami gangguan pendengaran ringan sampai sedang tidak menyadari dengan gangguan pendengaran yang dimilikinya.

C. Penyebab & Tipe Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran dapat diakibatkan oleh gangguan atau kerusakan pada salah satu dari tiga bagian telinga. Pemahaman akan anatomi telinga dengan baik terlebih dahulu, akan sangat membantu Anda dalam memahami masalah gangguan pendengaran.

Telinga memiliki tiga bagian, yaitu:

1. Telinga Luar

Daun telinga sebagai pengumpulan dan penyalur bunyi ke liang telinga dan adanya liang telinga (saluran telinga luar) yang mengarahkan bunyi ke telinga. Masalah yang paling sering ditemui adalah penumpukan kotoran telinga (earwax) yang berlebihan dan infeksi yang terjadi di liang telinga.

2. Telinga Tengah

Di sinilah letak adanya gendang telinga yang berfungsi untuk mengubah bunyi menjadi getaran dan adanya tulang-tulang pendengaran (maleus, inkus dan stapes) sebagai rangkaian ketiga tulang kecil (osikula) yang menghantar getaran ke telinga dalam. Sebagian besar kasus gangguan pada telinga luar dan tengah dapat diatasi dengan tindakan medis atau operasi. Masalah yang paling sering terjadi adalah infeksi dan berlubangnya gendang telinga.

3. Telinga Dalam

Yang disebut rumah siput/koklea yang berisi cairan dan sel “rambut” yang sangat peka. Struktur yang berupa rambut halus ini bergetar ketika dirangsang oleh getaran bunyi. Di dalam telinga dalam juga terdapat adanya sistem Vestibular yang berisi sel yang mengendalikan keseimbangan dan saraf auditori yang menghubungkan koklea/rumah siput ke otak. Kebisingan & penggunaan obat-obatan yang meracuni telinga merusak sel rambut yang ada di koklea, sehingga akan menganggu perjalanan bunyi ke otak. Kerusakan di daerah ini hampir tidak dapat diobati.

Gangguan pendengaran yang diakibatkan oleh masalah yang terjadi pada telinga luar atau tengah disebut gangguan pendengaran konduktif, sedangkan pada telinga dalam disebut gangguan pendengaran sensorineural.
Salah satu gangguan pendengaran yang sering dijumpai lainnya adalah Tinnitus. Tinnitus adalah perasaan mendengar bunyi atau suara lain yang terus menerus di kepala sehingga dapat digambarkan sebagai telinga yang “berdering” dan berbagai suara didalam kepala yang terdengar tanpa adanya sumber suara dari luar. Tinnitus dapat disertai dengan penurunan pendengaran.

Beberapa masalah pada telinga dapat disembuhkan dengan tindakan medis atau operasi. Namun pada umumnya, penurunan pendengaran ataupun tinnitus adalah permanen. Pemakaian Alat Bantu Dengar adalah solusi yang tepat untuk dapat membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

D. Konsekuensi Gangguan Pendengaran
Di Amerika pada tahun 1999, National Council on the Ageing (NCOA) – Dewan Nasional untuk masalah usia Tua melakukan survey pada orang berusia di atas usia 50 tahun yang mengalami gangguan pendengaran. Survey NCOA menunjukkan bahwa sebagian besar pemakai Alat Bantu Dengar melaporkan peningkatan yang signifikan pada kualitas hidup mereka sejak menggunakan Alat Bantu Dengar.

Survey juga menunjukkan, dibandingkan dengan pemakai Alat Bantu Dengar, mereka yang tidak menggunakan melaporkan mereka lebih sering merasakan :

o Kesedihan dan depresi
o Khawatir dan gelisah
o Paranoid
o Kurangnya aktivitas sosial
o Emosional dan merasa tidak aman

Untuk yang mengalami gangguan namun telah dilakukan rehabilitasi melaporkan adanya manfaat berikut :

o Hubungan yang lebih baik dengan keluarga
o Perasaan yang lebih baik tentang diri mereka sendiri/menambah kepercayaan diri
o Kesehatan mental lebih meningkat
o Merasa lebih bebas dan aman
o Tidak bergantung dengan orang lain

Lebih dari separuh pemakai Alat Bantu Dengar melaporkan adanya peningkatan hubungan dalam keluarga dan kepercayaan diri. Sekitar 40% menyatakan bahwa kehidupan mereka meningkat secara umum, mereka merasakan mental yang lebih sehat dan kepercayaan diri yang lebih tinggi.

Untuk mendapatkan informasi tentang psikologi, sosial dan konsekwensi fisik karena gangguan pendengaran silahkan melihat ke non-komersial website www.hear-it.org.

Sebuah telinga manusia dengan pendengaran normal dapat mendeteksi rentang frekuensi yang sangat luas mencakup 20Hz sampai dengan 20.000Hz. Standar penguji tes pendengaran hanya berkonsentrasi pada kisaran frekuensi relevan untuk memahami orang berbicara dengan berpidato, yakni pada kisaran 250 Hz hingga 8000 Hz.

Pengujian tes pendengaran yang dilakukan secara professional haruslah dilakukan disebuah tempat terpisah yang jauh dari kebisingan dan berada ditempat yang sunyi tanpa adanya gangguan suara sekecil apapun dengan metode kalibrasi audiometer yang spesial dan dilakukan dengan menggunakan prosedur khusus. Masing-masing telinga akan diuji secara terpisah mengingat kemungkinan adanya perbedaan kerusakan yang berbeda diantara keduanya.

Jangkauan tes pendengaran akan kemudian dibandingkan dengan jarak jangkauan pendengaran pada level normal manusia. Kunci dari pengujian yang diutamakan dalam observasinya adalah “pada tingkat apa Saya mulai mendengar suara” dan “pada tingkat apa Saya mulai mengalami pendengaran yang menjadi terlalu keras”. Hasilnya akan dapat dilihat melalui bentuk sebuah audiogram, yakni grafik yang menggambarkan kemampuan pendengaran seseorang dan besarnya gangguan pendengaran yang dialami seseorang untuk masing-masing telinga.

Para ahli audiologi atau spesialis pendengaran yang kemudian dapat menjelaskan hasil dari audiogram tersebut dan efek akan kerugian tertentu juga dampak negatif dalam berkomunikasi pada kehidupan sehari-hari sehingga akan membantu untuk pemilihan Alat Bantu Dengar yang tepat untuk kenyamanan Pendengaran Anda.